Jumat, 26 Februari 2016

Ingin Hidup Selamanya

Ingin hidup selamanya, layak setan ???
...
Www.muslimplus.net

Waktu Terlarang Melaksanakan Sholat (copy dari Kodham )

🌾🍃🌾🍃🌾🍃🌾🍃
Waktu-Waktu Terlarang untuk
Melaksanakan ShalatWaktu-waktu terlarang yang kita maksud pada pembahasan ini adalah waktu untuk melaksanakan shalat sunnah. Terdapat tiga waktu terlarang untuk mengerjakan shalat sunnah, yaitu:
1. Waktu terbit matahari.
2.Waktu condong matahari pada tengah hari.
3. Waktu tenggelamnya matahari.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau mengubur mayat pada waktu-waktu tersebut, yaitu ketika matahari terbit hingga dia meninggi, ketika bayangan seseorang tampak tegak lurus saat dia berdiri dia bawah sinar matahari hingga condongnya matahari, ketika pancaran sinar matahari semakin berkurang saat hendak terbenam hingga waktu terbenamnya.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Di antara ulama terdapat perbedaan pendapat ilmiah tentang tetap boleh atau tidaknya melaksanakan shalat sunnah pada waktu terlarang, jika ada sebab melaksanakannya. Dua pendapat ulama tersebut adalah:
1. Shalat sunnah boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, jika ada sebab melaksanakannya.
2. Shalat sunnah tidak boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, meskipun ada sebab melaksanakannya.
Dalam permasalahan ini pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama (yang membolehkan jika ada sebab).
Wallahu a’lam.
Di antara contoh sebab tersebut adalah shalat tahiyyatul masjid, shalat gerhana, istisqa’, dan shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.

#salamrobkodham

Islam

Hidangan sore hari...
Copas

SETIAP KALI TERINGAT DIA, DUNIA INI TERASA TIDAK ADA HARGANYA!

KISAH YANG MENAKJUBKAN..

Ibnul Mubarak (TABI'UT TABI'IN) -rahimahullah- menceritakan kisahnya : “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan : “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (TABI'UT TABI'IN) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata :
“Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan :
“Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.
Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.
Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul
doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”

Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.
Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.
Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?”

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda
mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

::Indahnya Islam,bagi kaum yg brfikir::

Minggu, 21 Februari 2016

Nasihat ...

⛔ AWAS DA'I GADUNGAN PECANDU ROKOK 🚬

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

📝 Pengemban risalah dakwah Islam adalah da’i yang memikul tugas agung dan mulia, sehingga Allah tidak membebankan kepada sembarangan orang untuk menjalankannya.

🌴 Orang-orang yang pertama kali Allah percayakan untuk mengemban amanat ini adalah para Nabi dan Rasul 'alaihimussalaam, kemudian para ulama Rabbani (orang berilmu yang sejati) sebagai pewaris ilmu para Nabi.

🌴 Mereka menjadi panutan dan teladan bagi manusia. Pandangan manusia tertuju kepada mereka, gerak-gerik, sifat, dan kebiasaanya menjadi sorotan di masyarakat.

🚧 Namun, karena jauhnya masyarakat dari ilmu Syar’i maka banyak di antara mereka yang salah kaprah dalam mencari panutan, sehingga menyebarlah para da’i gadungan yang jauh dari  akhlaq Islami, seperti para da’i perokok.

📝 Berikut ini akan dipaparkan beberapa hukum syar’i  menyangkut da’i yang suka merokok:

➡ Pertama: Seorang da'i atau kiyai perokok tidak pantas untuk dijadikan guru atau pengajar agama. Karena diantara syarat sebagai seorang guru agama adalah memiliki standar keislaman dan keimanan yang baik.

✅ Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

من حسن إسلام المرء تركة ما لا يعنيه

🌱 “Diantara indikasi baiknya keislaman seseorang adalah meningggalkan sesuatu hal yang tidak bermanfaaat baginya." (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu)

📚 Pelajaran dari Hadits ini adalah  bahwa:

1. قال العلماء: أهم ما يعنيك فعل الواجبات، وأهم ما لا يعنيك فعل المحرمات، فمن حسن إسلام المسلم تركه ما لا يجوز له فعله؛ لأنه لا يعنيه، فترك المحرمات والمكروهات، وترك الكبائر والصغائر مما يعني الإنسان تركه

1. Para ulama mengatakan, ”Perbuatan bermanfaat yang paling utama untuk kamu lakukan adalah melaksanakan yang wajib. Dan perbuatan sia-sia yang paling utama untuk ditinggalkan adalah perbuatan haram. Maka, diantara indikasi dan standar baiknya keislaman seseorang yaitu  meninggalkan sesuatu yang terlarang dalam agama. Dengan demikian, meninggalkan hal-hal yang haram dan yang makruh (dibenci), dan meninggalkan dosa besar dan dosa kecil termasuk sesuatu yang bermanfaat jika seseorang meniggalkannya.

2. أن من لم يترك ما لا يعنيه فإنه ضعيف إيمانه وإن من كمال إيمان العبد تركه ما لا يهمه من الأقوال والأفعال

2. Orang yang tidak meninggalkan sesuatu yang tidak bermafaat baginya adalah orang yang lemah imannya. Sebaliknya, diantara indikasi kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, baik dari segi perkataan maupun perbuatan.

🚧 Seseorang yang lemah imannya bagaimana mungkin  bisa menjadi seorang da'i yang seharusnya menjadi dokter hati bagi mad’unya (jama'ahnya) yang butuh siraman keimanan dengan ilmu dan akhlaq mulia?

🔥 Jika seorang da'i yang masih sibuk dengan aktifitas dan permainan yang tidak berguna sudah diragukan kesholihannya dan bisa mengurangi kewibawaannya sehingga orang lain tidak mau belajar darinya, lantas bagaimana dengan seorang da'i yang jelas-jelas melakukan perbuatan haram seperti merokok?

🚧 Tentu keimanannya bisa dikatakan rusak (sangat kurang). Lalu bagaimana dia bisa memperbaiki keimanan orang lain sementara imannya sendiri rusak.

✅ Allah ta'ala berfirman,

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

🌱 "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195)

💻 Baca Selengkapnya: http://sofyanruray.info/awas-dai-gadungan-pecandu-rokok/

✍ Ustadz Hendra Abu Dihyah, Lc hafizhahullah

══════ ❁✿❁ ══════

➡️ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵️

📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Join Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547

Petuah Ulama

#Petuah_Ulama (114)

🌹 Cara Menegur Orang yang Bersalah 🎈

✅ Al-Imam Sulaiman Al-Khawas rahimahullah berkata,

من وعظ أخاه فيما بينه وبينه فهي نصيحة، ومن وعظه على رؤوس الناس فإنما فضحه

🌴 "Barangsiapa menegur saudaranya di saat mereka hanya berdua maka itulah nasihat, dan barangsiapa yang menegur saudaranya di depan banyak orang maka ia telah menjelek-jelekan saudaranya." [Al-Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Munkar libni Abid Dunya: 61]

══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵

📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Join Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547